Mirror, Mirror, on The Wall
Dewi Lestari
Saya teringat awal tahun 1990-an
ketika produk pemutih wajah pertama kali diperkenalkan. Saya baru mulai
kuliah saat itu. Saya tak ingat persis yang mana, tapi saya pernah
mencoba memakai salah satu produk tersebut, tidak lama-lama karena
kurang cocok. Dan dari masa itu hingga sekarang, tak terhitung lagi
banyaknya aneka produk pemutih kulit yang ditawarkan berbagai produsen.
Cara mereka beriklan pun semakin luar biasa cerdik. Putihnya kulit
dihubungkan dengan peluangnya menemukan cinta, dengan putihnya hati
nurani, dengan kebahagiaan, hingga perebutan jodoh dalam tujuh hari.
Gosong akibat kebanyakan beraktivitas di bawah terik matahari tidak lagi
menjadi alasan yang spesial.
Mereka yang kurang putih digambarkan murung, tak mendapat perhatian
cukup, selalu dilewatkan oleh sang pujaan, alias tak bahagia. Sementara
mereka yang sudah putih atau akhirnya berhasil putih menjadi lebih
semringah, diperhatikan orang-orang, dan mendapatkan cinta. Singkat
kata, lebih bahagia. Melihat iklan-iklan itu, saya jadi bertanya-tanya,
mengorek-ngorek ingatan saya: pernahkah saya bertemu kasus di mana
seseorang ditinggalkan karena kurang putih? Atau pernahkah saya sendiri,
ketika harus menentukan pasangan, mendasarkan penilaian saya atas kadar
melanin kulit mereka? Jujur, saya belum pernah. Pada akhirnya, yang
membuat saya betah bersama dengan seseorang adalah kecocokan,
ketersambungan sinapsis, hati, dan jiwa.